Daftar | Login
Jum'at, 16 November 2018 - 19:40 wib

Khazanah Idul Fitri di Tarim Yaman

Oleh: Moh Nasirul Haq
Mahasiswa Universitas Imam Syafi’i Yaman.

PADA Hari Raya Idul Fitri kali ini adalah ketiga kalinya bagi saya selama kuliah di Yaman. Satu kali berada di kota Mukalla dan dua kali di desa Tarim. Keduanya berada di provinsi Hadramaut Yaman.

Kalau di Mukalla biasanya syiar takbir hari raya begitu syahdu terdengar sepanjang malam dari berbagai masjid. Masjid Asrama kami misalnya “Masjid Imam Syafi’i” menurut informasi yang kami dapatkan merupakan masjid terbesar yang ada di Hadramaut. Di Masjid Syafii sepanjang malam mengumandangkan takbir guna “ihya lailatil ied” menghidupkan malam Idul Fitri serta qiyamul lail sebagaimana anjuran Nabi hingga waktu shalat tiba.

Berbeda dengan Kota Mukalla Desa Tarim yang memiliki tradisi yang berbeda. Masyarakat Tarim lebih banyak mengisi malam harinya dengan Qiyamul lail dan sholat Tasbih, Qosidah, serta dzikir- dzikir kepada Allah SWT. Adapun takbiran dilantunkan tanpa pengeras suara. Barulah sehabis shalat subuh dikumandangkan takbir dengan pengeras suara.

Pembayaran zakat juga semarak diberikan pada fakir miskin sehari sebelum pelaksanaan shalat ied. Kemarin saat saya akan membayar zakat fitrah setiap orangnya diminta 500 real untuk beras yang kualitas rendah, 700 real beras kualitas menengah, dan 1000 real untuk beras unggulan.

Beberapa masjid yang terkenal di Tarim melaksanakan shalat ied dengan ragam yang berbeda. Misalnya masjid fenomenal dengan menara tanah liat tertinggi di Yaman yaitu “Masjid Al Muhdlor” nampak para jemaah yang shalat lebih menginterpertasikan makna khusyuk dan ketenangan, jamaah yang hadir ada yang sejak subuh duduk bersama bertakbir dan berdzikir kepada Allah Swt. Adapun yang menjadi khotib adalah dari keluarga Bin Syihab yang terkenal di Tarim.

Begitu juga dengan masjid “Al-Fath” yang merupakan masjid yang didirikan oleh Imam Abdullah al Haddad nampak tidak jauh berbeda dengan Masjid Muhdlar. Hanya saja jika solat di masjid ini kita bisa melihat ornamen hiasan kaligrafi dan lampion bergaya Eropa. Kitapun juga bisa mengunjungi tempat peribadatan Imam Abdullah Al Haddad dan melihat artefak peninggalan dakwah beliau. Adapun yang menjadi imam dan khotib di masjid Fath adalah dari keluarga Al Haddad.

Pada hari raya kali ini kebetulan kami ingin merasakan suasana yang berbeda dan saya pun melaksanakan sholat ied di “jabbanah” yaitu masjid yang berada di sebelah kanan makam zambal dan furait. di pinggiran jalan menuju jabbanah banyak orang menjajahkan maenan anak-anak, batotis, sambossa, makanan ringan dan manisan hari raya.

Yang unik di jabbanah berbeda dengan masjid lainnya sebab di sini banyak sekali anak anak kecil yang sengaja diajak orang tuanya untuk membeli maenan dan kuliner hari raya. Dengan mengenakan aneka pakaian ala cinderella arab dan dandanan Jambul rambut bermacam macam membuat anak anak itu makin nampak lucu dan menggemaskan. Karena saya orang Indonesia, saya terperajat melihat kecantikan dan ketampanan gadis dan bocah Arab.

Sholat ied di masjid jabbanah dipenuhi ribuan masyarakat dan santri dari Univ. Al Ahqof, Rubath Tarim, dan Univ. Imam Syafi’i. Sementara yang menjadi imam dan khotib adalah dari keluarga Al Khotib.

Selepas shalat ied para jamaah berziarah ke makam para ulama dan auliya’ di zambal serta makam Syuhada Perang Badar, sementara sebagian lainnya masih asyik berbelanja dan menikmati kuliner di sekitar masjid jabbanah.

Nah, Darul Mustofa pesantren asuhan habib umar memiliki cara sendiri dalam melaksanakan hari raya. Darul Mustofa yang terkenal sebagai pesantren yang mencetak Da’i kelas dunia, disini ribuan santrinya menggunakan pakaian jubah dan imamah lengkap.

Kemudian segenap santri Darul Musthofa, Ma’had idrus, Ma’had Nur dan masyarakat sekitar kompleks Aidid bergerak melakukan arak arakan dari Markas musholla ahlul kisa’ menuju Masjid “Ar-Raudloh” yang berjarak sekitar 500 M. Arak arakan ini dipimpin langsung oleh beliau Habib Umar Bin Hafidz dan putranya Habib Salim Bin Hafidz.

Arak arakan ini sangat meriah sebab di depan di bawakan empat atribut bendera habaib serta tabuhan genderang berirama klasik penghangat suasana. Teriakan “Allahu Akbar walillahil hamd” dan qosidah “Ala Ya Allah Binadzrah Minal Aini Rahimah” memecah tangisan kerinduan kepada bumi pertiwi Indonesia serta mengingatkan pada masa kejayaan Islam dibawah bendera Rasulullah SAW.

sesampainya di Masjid Raudlah para jamaah langsung melaksanakan shalat Iedul fitri dan yang menjadi imam adalah Dari keluarga Bin Syekh Abu Bakar Bin Salim.

Biasanya selepas shalat ied segenap santri dan mahasiswa bersalam salaman dan selfie bersama sambil melepas kerinduan dengan keluarga dirumah.

Yang berbeda khutbah iedul fitri di tarim menggunakan rujukan dari kitab karya ulama tarim yang telah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu.

Seorang dosen saya Al Qodli DR Abdullah Balfaqih menuturkan: “khutbah di tarim memiliki ciri khas dari segi keistimewaan sastranya yang tinggi, keluhuran pesan morilnya, serta tidak pernah mengabaikan aspek dzikrulloh mengingat Alloh S.W.T maka jangan heran meskipun disaat suasana bahagia kalian akan menemukan khotibnya menangis tersedu sedu saat mengingatkan mengenai kematian, dunia yang hanya sementara dibanding kekalnya kehidupan akhirat.”

Dan itu terbukti saya pun beserta jamaah lainnya turut menitikan air mata saat mendengarkan khutbah yang dibacakan oleh khatib.

Dihari pertama hari raya banyak dari kalangan santri dan mahasiswa yang melaksanakan Halal bi halal dan Uzumah dengan menyewa Suggoh (losmen) atau di Masbah (kolam renang) dan bertemu teman kerabat yang berbeda institusi. Barulah di hari kedua biasanya kita melaksanakan puasa syawalan hingga tanggal 7 Syawal.

Demikianlah beberapa hal yang menjadi khas Idul Fitri di kota Tarim. Semoga bermanfaat dan selamat menunaikan hari raya Idul Fitri “Minal Aidzin Wal Faizin Mohon Maaf Lahir dan Batin.” (*)

Tarim, 1 Syawal 1437 H.

Tadzkirah

Kenaikan Beragama Seseorang Ditandai oleh Akhlaknya yang Baik – KH A Musthofa Bisri

-- Akhlak

Buku

Islam ala Amerika
Judul: Islam Amerika Penulis: Imam Feisal Abdul Rauf Penerbit: Bandung, Mizan Terbitan: Pertama, Desember 2013 Tebal: 351 halaman ISBN: 978-602-1210-01-7 Peresensi: M Kamil Akhyari ...