Daftar | Login
Jum'at, 19 April 2019 - 10:23 wib

Kesaksian Sisi Lain Kehidupan Habib Luthfi

Kesaksian Sisi Lain Kehidupan Habib Luthfi

Oleh: Ismael Amin Kholil

Kunjungan ke kota batik, Pekalonga kali ini benar-benar terasa sangat indah. Setelah ngalap berkah Habib Ahmad Bin Abdullah Al-Athhos di Sapuro dan menghadiri acara Majelis Rasulullah di Wiradesa, pada tengah malam aku langsung saja menuju kediaman Habib Luthfi Bin Yahya.

Dari kabar yang aku dapat dari khodim beliau, Abah Luthfi baru saja rawuh. Ketika kami sampai di depan dalem beliau, dari kejauhan tampak berlangsung sebuah pertemuan di lantai bawah. Aku memasuki rumah beliau dengan perasaan ragu, di tengah jadwal beliau yang sangat padat, ditengah tamu-tamu beliau yang begitu membludak ini, apakah diri ini —yang bukan orang penting dan orang besar— bisa ditemui beliau?

Gak usah lama-lama wes hanya sekedar meminta barokah doa. Kami menuju ruang tamu di lantai atas, disitu sudah banyak orang menunggu untuk ditemui Abah. Menurut kabar yang aku dapat dari seorang sahabat, banyak orang yang bahkan rela menunggu berhari-hari agar bisa menemui Habib Luthfi.

Di tengah keraguan yang masih saja menyelimuti hati, aku mengirim fatehah dan bertawasul kepada para Awliya’ Ba’alawi, Habib Umar dan Syaikhona Kholil Bangkalan. Aku ingat, salah satu kiai sepuh di Madura pernah mengisyaratkan padaku bahwa Habib Luthfi memiliki ikatan batin khusus dengan Mbah Kholil. Ketika berziarah ke makam Mbah Kholil di Bangkalan beliau bahkan selalu “bercengkrama” langsung dengan “Shohibul Maqom”.

Tak lama kemudian, Habib Luthfi keluar kamar. Sayang sekali beliau langsung menuju ruang rapat di lantai bawah dan masih belum bisa menerima tamu. Akhirnya aku juga nimbrung mengikuti jalannya rapat yang ternyata adalah rapat pengurus Jatman untuk acara Multaqo Ulama Internasional yang akan diadakan di Pekalongan beberapa minggu kedepan.

Waktu hampir menunjukkan pukul satu, Habib Luthfi pamit untuk bersiap-siap ke Jakarta di pagi harinya. Orang-orang langsung saja mengerebungi beliau, berebut untuk bersalaman. Aku makin ragu akan kemungkinan bisa ditemui beliau malam ini.

Namun barokah para Awliya’ memang tak akan pernah lekang oleh waktu, di tengah kerumunan siapa sangka ada satu sahabat Banser yang matur ke Abah bahwa ada “tamu” dari keluarga Bangkalan. Aku langsung maju, mencium tangan beliau dan matur:

“Bru datang sebulan lalu dari Yaman, bah.”

Abah langsung mengajak ke lantai atas, dan tak disangka-sangka, bukan ruang tamu yang beliau tuju, melainkan kamar pribadi beliau.

Mriki, gus,” beliau memanggilku dari dalam.

Aku langsung saja masuk, disusul Mas Agung yang menemaniku dari Jogjakarta, Fathul Id dan pak Nur. Tampak sebuah kamar dengan tumpukan kitab dimana-mana, ada kitab Al-Maqothi’ di sebelah sana, kitab rangkuman kalam-kalam Saadah Ba’alawi keluaran terbaru. Ada juga kumpulan topi koboi mengelantung di pojokan kamar.

Abah Luthfi melepas jubah dan kopiahnya. Dengan memakai kaos oblong dan celana putih beliau mempersilahkan kami duduk.

“Saya membawa amanah dari Habib Umar untuk bertamu ke para ulama, bib,” aku membuka percakapan.

Aku lalu meminta nasehat dan arahan beliau terkait metode dakwah terbaik untuk masyarakat umum. Beliau lalu memberi arahan untuk fokus pada aqidah dan hal-hal yang pokok. Tinggalkan masalah-masalah khilafiah seperti membahas hukum rokok, cadar, dll.

Beliau juga membahas tentang beberapa ayat, menguak rahasia-rahasia Al-Quran yang tidak bisa dipahami dengan pemikiran yang dangkal. Beliau lalu berkata:

“Diantara para muballigh, saya ini kebagian yang pahit-pahit.”

Beliau kemudian menanyakan hal yang begitu menggelitik:

“Smpean sudah pernah duduk dengan pelacur?”

“Boten,” aku menjawab.

“Sama peminum minuman keras?”

“Belum pernah”

“Saya dulu duduk bersama mereka selama 3 tahun. Saya dicap sebagai Habib gak bener saya gak peduli. Orang seperti mereka itu jangan dijauhi biar tidak lari. Mereka itu tanggung jawab siapa?”

“Ketika kita berdakwah, maka jangan jadikan orang lain sebagai lawan. Jadikan mereka sebagai saudara. Ketika kita menganggap mereka sebagai saudara kita akan bersikap baik terhadap mereka. Kunci dakwah itu satu: kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama: Bil Mu’minina roufurrahiim

Abah lalu menjelaskan betapa pentingnya merangkul orang-orang seperti itu dalam berdakwah. Menceritakan bagaimana awal perjuangan dakwah beliau di masa lampau.

“Dakwah dengan sikap yang baik itu lebih kita butuhkan daripada hanya dengan ceramah-ceramah.”

Aku lalu berkomentar bahwa dulu dakwah Habib Umar juga “menjemput bola” sama seperti Abah Luthfi. Habib Umar mendatangi pemuda-pemuda pemain bola, merangkul mereka, dan pada akhirnya mengajak mereka pada kegiatan-kegiatan keagamaan.

Abah Luthfi bercerita lagi:

“Saya ini kalau diajak umroh oleh orang jarang sekali mau. Soalnya saya tidak ingin meninggalkan amanah yang begitu besar disini untuk hanya sekedar jalan-jalan dan sowan Rasulullah. —Tugas saya di sini juga amanah Rasulullah—. Coba andai saja uang yang dibuat umroh berkali-kali itu diberikan pada orang-orang kelaparan, anak-anak pesantren yang putus belajar karena tak punya biaya, dll.”

Abah terlihat begitu bersemangat di malam itu, beliau bercerita banyak tentang masa mondok beliau, tentang NU, Ra Lilur, dan guru-guru beliau. Juga tentang buyut beliau, Habib Syaikh Bin Yahya di Desa Qorot Hadhramaut yang bahkan aku yang pernah 6 tahun lebih di sana tak pernah mendengar tentang itu sebelumnya.

“Saya seperti ini karena saya mondok 22 tahun. Setelah menikah bahkan saya masih tetap mengaji selama 11 tahun,” kenang Abah.

“Iya bib. Banyak orang yang mengira bahwa njenengan mendapat semua ini secara instan,” cletuk seorang kiai dari Kaliwungu yang juga hadir di kamar waktu itu. Abah tertawa mendengarnya.

Beliau juga menjelaskan bahwa kakeknya Habib Hasyim Bin Yahya memiliki ikatan emosional yang begitu kuat dengan Syaikhona Kholil Bangkalan. Bahkan Syaikhona sering kali datang ke Pekalongan untuk mengunjungi Habib Hasyim, begitu juga sebaliknya. Sama seperti Syaikhona, Habib Hasyim ini menurut Abah Luthfi juga memiliki andil besar dalam berdirinya NU.

Di malam itu Habib Luthfi seakan tak henti-hentinya menuangkan lautan ilmunya untuk kami. Bagaikan mimpi, yang duduk di hadapanku waktu itu bukanlah orang biasa, bukan orang sembarangan, beliau adalah sosok agung pemimpin Jama’ah Thariqat se-nusantara yang begitu disegani dimanapun.

Namun lihatlah sambutan beliau yang sangat hangat dan antusias untuk seseorang yang bukan siapa-siapa dan baru pertama kalinya bertemu dengan beliau ini.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga. Sudah 2 jam lebih kami mendengar wejangan-wejangan berharga dari beliau. Jika aku tak minta izin untuk pamit, mungkin pertemuan itu akan ‘bablas’ sampai subuh.

Aku bertanya dalam hati:

“Beliau ini baru saja pulang, terus rapat, setelah subuh nanti akan menuju Jakarta. Dan pada jam ini beliau masih bersedia menemui tamu-tamu. Terus kapan istirahatnya?”

Dini hari itu aku benar-benar dibuat jatuh cinta kepada sosok Habib Luthfi. Pada kesederhanaan beliau, keramahannya, ketawadhu’annya, dan semangat beliau untuk berbagi ilmu dan kebaikan terhadap orang lain. Ketika memandang beliau langsung di depanku waktu itu, di kala beliau sibuk menjelaskan bermacam-macam teori dakwah untuk kami, aku malah ingin menangis haru.

Habib Luthfi sekali lagi bukan orang sembarangan, beliau pemilik mata batin yang sangat kuat sama seperti Habib Umar dan para pembesar Habaib lainnya.

Aku lantas teringat akan kisah seseorang di Tarim, dulunya ia adalah orang yang bergelimangan dosa. Ketika ditanya tentang sebab taubatnya ia menjawab:

“Habib Umar dan Habib Abdullah Bin Syihab. Mereka berdua tahu aku ini orang yang banyak dosa, tapi mereka tak pernah berhenti terseyum ketika bertemu denganku.”

Malam itu aku menyaksikan sendiri kehebatan sosok Abah Luthfi yang sering aku dengar selama ini. Ketika beliau menjelaskan bahwa Kewalian keluarga Bin Yahya itu banyak yang mastur, aku berkata kepada beliau:

“Tapi kalau panjenengan termasuk yang masyhur bib.”

Beliau tersenyum lalu berkata:

“Alaah, saya ini masyhur dari mana?”

Kami pamitan. Beliau melarang kami untuk bersalaman, kata beliau biar kapan-kapan bisa bertemu lagi, beliau juga berpesan:

“Jangan pernah bosan main kesini.”

Benar-benar pertemuan berharga yang bagaikan sebuah mimpi. Bahkan sampai sekarang aku seakan belum bisa move on dari indahnya pertemuan itu. Persis seperti yang didawuhkan oleh Siidil Habib Umar:

مصاحبة الرجال ذوي الوفاء * نعيم الخلد في دار الفناء

“Berkumpul bersama mereka para kekasih Allah adalah nikmat surgawi yang bisa dirasakan di dunia yang fana ini.”

Semoga selalu diberikan afiyah dan kesehatan Abah, di tengah perpecahan yang umat rasakan saat ini, betapa butuhnya mereka terhadap sosok yang bijak, tenang, teduh, sejuk dan menyejukkan seperti panjenengan bib. Salam Tadhim untuk panjengenan di setiap detik kulo. (*)

Yogyakarta, 5 Februari 2019.

Ismael Amin Kholil, alumni Darul Mustofa Hadhramaut Yaman.

Tadzkirah

Kenaikan Beragama Seseorang Ditandai oleh Akhlaknya yang Baik – KH A Musthofa Bisri

-- Akhlak

Buku

Islam ala Amerika
Judul: Islam Amerika Penulis: Imam Feisal Abdul Rauf Penerbit: Bandung, Mizan Terbitan: Pertama, Desember 2013 Tebal: 351 halaman ISBN: 978-602-1210-01-7 Peresensi: M Kamil Akhyari ...