Daftar | Login
Selasa, 21 November 2017 - 00:25 wib
Dra Aisyah Lilia Agustina, M.Si

Mewakafkan Diri Demi NU dan Masyarakat

Ubaidillah Dz - SantriNews.com
Mewakafkan Diri Demi NU dan MasyarakatDra Aisyah Lilia Agustina, M.Si, anggota FKB DPRD Jawa Timur (santrinews.com/ist)

Meneruskan kiprah kakeknya yang pernah menjabat sebagai anggota konstituante dan ketua PCNU Sidoarjo yang pertama, Dra Hj Aisyah Lilia Agustina, M.Si juga mengabdi di Parlemen dan berkhidmat pada NU.

SOSOKNYA sederhana. Berwajah teduh dengan senyum yang ramah. Itulah kesan pertama sosok Dra Hj Aisyah Lilia Agustina, M.Si, Komisi B, bidang Perekonomian DPRD Jatim itu.

“Silahkan, mari sini,” ujarnya saat ditemui SantriNews, di ruang Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur, Jl. Indrapura Surabaya, Senin, 14 Agustus 2017.

Perempuan yang akan genap berusia 53 tahun pada 29 Agustus 2017 ini dilahirkan dari keluarga sederhana yang sangat berpegang teguh pada agama.

Ayahandanya, H Abd Madjid tidak pernah lelah mengingatkan untuk berlajar ilmu agama. Ibundanya, juga selalu mendoakan anak tertuanya itu untuk menjadi muslimah yang shalehah.

Dalam dirinya mengalir darah ulama besar. Kakek dari jalur ibundanya, KH Ahmad Sahal Mansyur merupakan ketua pertama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Sidoarjo setelah mendapatkan legalitas dari Pemerintah Jepang tertanggal 9 Februari Tahun 2604 dalam kalender tahun Showa atau tahun 1944 dalam kalender Masehi. Dan ditetapkan oleh PBNU yang ditandatangani oleh KH Wahab Hasbullah tertanggal 2 Mei pada tahun yang sama.

Ngotot Jadi Santri
Sekitar tahun 1970-an ketika menempuh pendidikan di pondok pesantren dianggap kolot, tidak keren dan tidak memiliki masa depan yang jelas, Icha sapaan akrabnya malah mantab untuk meneruskan jenjang pendidikannya di pesantren. Akhirnya selulus dari SDN, Icha nyantri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Jombang.

Keinginannya untuk mondok membuatnya dicemooh teman-temannya. Namun itu tidak mematahkan keinginannya. “Saya harus mampu dan lebih dari teman-teman lain yang masuk di sekolahan negeri, sekolahan umum,” tekad Icha.

Kepala sekolah di SDN tempatnya bersekolah mendatangi rumah dan meminta untuk melanjutkan ke jenjang sekolah umum karena Icha dinilai gadis yang cukup memiliki kemampuan akademik yang baik.

Menurut kepala sekolahnya itu, anak pintar seharusnya tidak mondok. Tapi dengan elegan, Icha menolak dan tetap bersikukuh untuk nyantri. “Kalau anak ndak pinter dimondokkan mau jadi apa anak-anak pondok,” jawab Icha waktu itu.

Keinginan untuk nyantri juga tidak lepas dari dorongan kuat dari ayahanda dan ibundanya. “Bapak saya itu punya keinginan untuk memondokkan. Menjadi Santri. Bapak saya punya pedoman bahwa saya harus mondok,” kenang Icha.

Ibundanya juga tidak henti-hentinya mendoakan Icha. Kedua orang inilah yang kemudian membulatkan tekadnya untuk menjadi santri.

Meski demikian, suatu waktu, setelah lulus Madrasah Aliyah, Icha sempat mendaftar di kampus umum. Alasannya, ia merasa sudah memiliki dasar agama yang kuat sehingga tetap bisa berpegang teguh pada Islam Ahlussunnah Wal Jamaah. Tapi ternyata tidak lulus.

“Wes nek awakmu sekolah umum, ndak tak dongakno,” kata Icha menirukan ayahandanya ketika tahu mendaftar di kampus umum.

Ia akhirnya memilih kampus negeri berbasis Agama, yakni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya.

Berkhidmat pada NU
Dilahirkan dari keluarga Nahdlyyin tulen, Icha memilih mengabdi pada NU melalui banom-banomnya. Ia pernah dipercaya menjadi ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Sidoarjo selama dua periode, yakni periode 1984-1987 dan periode 1987-1990.

Tak cukup mengabdi di tingkat kabupaten, Icha meneruskan kiprah pengabdiannya di Jatim. Ia yang dianggap berhasil memimpin IPPNU Sidoarjo selama dua periode, dipercaya untuk melanjutkan kesuksesan kepemimpinan di level wilayah dengan diamanahi menjadi Ketua Pimpinan Wilayah IPPNU Jawa Timur tahun 1990-1993.

Periode tahun 1990 hingga tahun 2000-an ia menghabiskan banyak waktunya untuk mengabdi sepenuhnya pada NU. Betapa tidak, ketika menjabat sebagai ketua PW IPPNU Jatim, ia juga menjabat sebagai Koordinator Bidang Organisasi PW Fatayat NU Jatim hingga tahun 1995.

Periode 1995-2000, ia masih aktif di Fatayat dengan tanggungjawab yang berbeda dengan periode keduanya, yakni Koordinator Bidang Litbang PW Fatayat NU Jatim. Baru satu tahun menjalankan tugasnya di Fatayat, ia ditambahi amanah untuk mengurus perekonomian Muslimat NU Jatim sebagai Koordinator Bidang Ekonomi dan Koperasi Muslimat NU Jatim periode 1996-2011.

Pilihannya untuk mengabdi pada NU ternyata membawa barokah dalam hidupnya. Perjalanan organisasinya selama mengabdi di banom-banom NU dianggap amanah, sehingga Partai Politik menaruh kepercayaan karena dianggap memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk menjadi politik.

Akhirnya, pada tahun 1999, ia dipercaya oleh masyarakat untuk menjadi wakil di Parlemen. Kejujurannya menjadi wakil rakyat itu membuatnya tetap dipercaya hingga kini untuk menjadi penyambung suara rakyat ke pemerintah.

Padahal, ketika masih menjadi santri tidak pernah terlintas dipikirannya untuk menjadi politisi. Ia hanya bermimpi untuk menjadi pemimpin. Sebab, ia punya keyakinan bahwa ‘Santri Today Leader Tomorrow’.

Keyakinannya itu baginya sudah terwujud. Sebab, meskipun bukan pemimpin, menjadi seorang DPRD juga memiliki kesamaan karakteristik dengan pemimpin, yakni mendengarkan dan membela kepentingan masyarakat.

Tak Peduli Jabatan
Icha adalah sosok perempuan yang memiliki semangat kuat untuk mengabdi kepada masyarakat. Baginya, pengabdian tidak dibatasi oleh jabatan. Tapi digerakkan oleh niat dan tekad berbagi. “Kita harus punya pedoman bahwa hal-hal yang kita lakukan tertuju kepada kemashlahatan masyarakat.”

Tapi, ketika jabatan sudah diberikan, ia menganggapnya sebagai amanah yang harus difungsikan secara adil. Maka, ketika ia dipercaya masyarakat untuk menjadi wakilnya di Parlemen, Icha selalu mendengarkan aspirasi masyarakat di dapilnya untuk disuarakan di sidang-sidang paripurna.

Kepercayaan masyarakat dimaknai sebagai kewajiban. Ia mewakafkan diri untuk melaksanakannya. Mengorbankan kepentingan pribadi untuk kemaslahatan bersama.

“Saya tidak melihat di Jabatan apa saya duduk. Yang penting saya tetap mengabdi. Kalau orang pengen yang di elite ya, kalau saya dipercaya duduk di mana saja. Yang penting jangan putus untuk mengabdi,” kata Icha tegas.

Namun, ia tidak melupakan kodratnya sebagai ibu rumah tangga. Kesibukannya mengurus dan menyuarakan kepentingan masyarakat tidak serta merta merampas kebersamaan bersama keluarga. Selalu ada waktu yang ia sisihkan dalam letih yang luar biasa untuk suami dan anak-anak tercintanya. (*)

Tadzkirah

Kenaikan Beragama Seseorang Ditandai oleh Akhlaknya yang Baik – KH A Musthofa Bisri

-- Akhlak

Buku

Islam ala Amerika
Judul: Islam Amerika Penulis: Imam Feisal Abdul Rauf Penerbit: Bandung, Mizan Terbitan: Pertama, Desember 2013 Tebal: 351 halaman ISBN: 978-602-1210-01-7 Peresensi: M Kamil Akhyari ...