Daftar | Login
Jum'at, 19 April 2019 - 10:30 wib

Berhutang Ta'bir pada Kiai Husein Muhammad

Berhutang Ta

Oleh: Abdul Moqsith Ghazali

Tampak gelisah seperti ada sesuatu yang sedang menggelayut di pikiran. Tidurnya pun jarang nyenyak. Baru beberapa menit merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia sudah bangkit lagi menulis beberapa paragraf di layar laptopnya yang selalu “on” itu. Padahal waktu sudah larut malam, tapi aktivitasnya itu terus saja berjalan hingga azan subuh berkumandang.

Itulah Kiai Husein Muhammad, salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun Cirebon, pernah menjadi komisioner Komnas Perempuan, cukup produktif menulis buku dan artikel terutama dalam bidang fikih dan tafsir Islam.

Mungkin sudah belasan buku dan ratusan artikel yang berhasil ditulisnya. Usianya memang sudah memasuki kepala enam, tapi energi dan semangat menulisnya tak pernah padam.

Di tengah kecenderungan sejumlah kiai melibatkan diri dalam kerja politik, maka Kiai Husein tampak unik. Hingga hari ini, ia misalnya cukup konsisten berada di jalur akademik; menulis dan menulis. Dan kualitas tulisannya cukup mengagumkan. Diksinya bukan hanya renyah tapi terasa kian bijaksana.

Ia pun rajin menulis puisi sufistik dengan mengambil inspirasi, kadang dari Jalaluddin Rumi, dan kala yang lain dari Ibnu Arabi.

Pertanyaannya, darimana keindahan diksi dan sofistikasi berbahasa Kiai Husein ini diperoleh? Saya tak tahu persis. Tapi saya menduga bahwa keterampilan menulis Kiai Husein diperoleh dari proses otodidak panjang yang mungkin juga sudah berkali-kali menemui kegagalan.

Ibarat orang berenang yang tak harus belajar teori berenang tapi langsung saja berenang, maka Kiai Husein juga sama. Ia tak belajar teori menulis, tapi langsung menulis.

Akhirnya, Kiai Husein dikenal luas sebagai penulis yang mahir mengolah kata dan lincah dalam mengemukakan gagasan-gagasannya. Dalam menulis, Kiai Husein seperti sedang membangun rumah; ada fondasi, tiang-tiang penyangga, dinding, langit-langit, dan atap. Kiai Husein misalnya membedakan mana fondasi dan tiang (ushuliyyat) dan mana atap dan dahan (mutaghayyirat).

Bisa saja fondasi dan tiang penyangga tulisan Kiai Husein adalah fondasi dan penyangga lama yang telah ditanam para ulama terdahulu. Sementara kehadiran Kiai Husein belakangan adalah untuk membuat langit-langit dan atapnya saja. Itu sebabnya, esai-esai Kiai Husein cukup rindang dengan kutipan pernyataan para ulama terdahulu seperti Ibnu Rusyd, al-Ghazali, al-Syathibi, Ibnu Aqil, dan lain-lain.

Pernah saya bertanya pada Kiai Husein, “Mengapa hanya untuk menyatakan hal seperti itu, kita harus bertumpu pada bahu ulama terdahulu?”. Kiai Husein biasanya menjawab, “Jika argumen ulama terdahulu sudah cukup tangguh, mengapa pula kita harus segera menyusulkannya dengan argumen baru”.

Soal kesabaran merujuk pada khazanah Islam klasik itu, sahabat saya Kiai Ulil Abshar Abdalla pernah menjuluki Kiai Husein sebagai “kiai pemulung”; yaitu kiai yang terampil dan tekun memulung argumen ulama terdahulu yang masih relevan dipakai untuk mengatasi persoalan hari ini.

Bukan hanya argumen relevan yang dipungutnya, buku diary Kiai Husein pun sebagiannya berisi teks-teks (ta’bir) “aneh” dari ulama terdahulu. Disebut “aneh” bukan hanya karena jarang dikutip orang melainkan juga karena mengandung “ajaran” yang potensial mengguncang doktrin yang telah dikonsensuskan.

Tapi, arifnya, Kiai Husein tak membagi teks-teks “aneh” itu ke umat, melainkan dibagikannya ke lingkungan sahabatnya secara terbatas.

Dan secara pribadi, saya banyak berhutang kutipan “ta’bir” kitab pada Kiai Husein. Namun, seperti biasa, Kiai Husein tak pernah menagih agar saya membayarnya dengan kutipan baru yang diserahkan kepadanya. Sebab, faktanya, saya memang lebih banyak menerima ilmu dari Kiai Husein, tapi tidak sebaliknya. Hal yastawi alladzina ya’lamun wa alladzina la ya’lamun.

Waba’du, jika pada Selasa 26 Maret 2019 ini Kiai Husein Muhammad akan dianugerahi gelar Doktor (HC) oleh UIN Wali Songo Semarang, saya ikut senang dan bangga. Atas kerja-kerja akademiknya selama ini, Kiai Husein adalah cendekiawan Islam yang pantas mendapatkan gelar itu. Selamat atas penganugerahan ini dan maaf tak bisa datang mendampingi kiai. (*)

Senin, 25 Maret 2019

Abdul Moqsith Ghazali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU).

Tadzkirah

Kenaikan Beragama Seseorang Ditandai oleh Akhlaknya yang Baik – KH A Musthofa Bisri

-- Akhlak

Buku

Islam ala Amerika
Judul: Islam Amerika Penulis: Imam Feisal Abdul Rauf Penerbit: Bandung, Mizan Terbitan: Pertama, Desember 2013 Tebal: 351 halaman ISBN: 978-602-1210-01-7 Peresensi: M Kamil Akhyari ...