Daftar | Login
Jum'at, 16 November 2018 - 19:40 wib

HTI, PKS dan Agenda Khilafah di Pilpres 2019

HTI, PKS dan Agenda Khilafah di Pilpres 2019

Oleh: Denny Siregar

SEJAK perang Suriah tahun 2011, gerakan khilafah semakin membesar dan masif di Indonesia. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terancam bubar. Presiden Jokowi pun bersikap tegas. HTI dibubarkan.

Ideologi mengganti sistem negara saat ini dengan syariat Islam, terus mereka kumandangkan dimana-mana. Dan tanpa malu-malu lagi mereka membentangkan spanduk, berorasi, bahkan memaksakan pemikiran-pemikiran mereka di media sosial maupun ceramah-ceramah.

Salah satu ormas yang aktif “berjuang” supaya khilafah tegak di Indonesia adalah Hizbut Thahrir Indonesia (HTI). Hizbut Tahrir adalah organisasi terlarang yang sudah dibubarkan di banyak negara, termasuk negara-negara Timur Tengah. Kenapa? Karena mereka sejatinya selalu ingin melakukan makar di setiap negara jika ada kesempatan.

HTI adalah gerakan revolusioner dan tidak menggunakan kekerasan, tetapi mendukung orang lain yang menggunakannya. Mereka anti demokrasi dan salah satu cabang terbesarnya ada di Indonesia.” begitu kata Sidney Jones pengamat terorisme dalam sebuah perbincangan.

Pembubaran HTI pada 2017 lalu, jelas menyisakan dendam membara kepada Presiden Jokowi yang mereka anggap sebagai musuh utama. Tapi karena mereka tidak bisa bergerak leluasa sebab sudah dilarang, mereka menggunakan tangan orang lain untuk melakukannya. Dan tangan itu ada di PKS.

Sebenarnya HTI dan PKS mempunyai ideologi yang sama, yaitu negara Islam. Hanya PKS malu-malu untuk terbuka, meski sudah condong mengarah kesana. Survey SMRC yang dilakukan bulan Mei 2017, mengungkapkan bahwa 34 persen simpatisan PKS setuju dengan adanya khilafah. Dan ini prosentase terbesar jika dibandingkan survey pada simpatisan partai lainnya.

Karena mempunyai kesamaan ideologi itulah, maka HTI mempunyai satu irisan yang sama dengan PKS. Dengan begitu, mudah bagi HTI untuk diterima masuk ke PKS dan mengembang-biakkan virusnya disana.

Pemilihan Presiden 2019, adalah salah satu cara HTI membalas dendamnya kepada Jokowi. Dan jika mereka menang, maka mereka akan semakin brutal memasukkan orang-orangnya ke semua sistem pemerintahan dan satu waktu mereka akan mengganti sistem itu dengan khilafah, yang sesuai ideologi mereka.

Itulah gerak panjang HTI yang sudah mereka susun dengan baik. Dan —sekali lagi— mereka tidak malu-malu untuk mengungkapkan itu di depan publik.

Video yang viral dimana Mardani Ali Sera, ketua DPP PKS, berpasangan dengan Ismail Yusanto, petinggi HTI, menunjukkan betapa HTI masih dengan bangga memproklamirkan ideologinya. “Ganti sistem.” Kata Ismail disamping Mardani yang berseru, “Ganti Presiden.”

HTI jelas tidak takut pada pemerintah Indonesia, yang dinilai tidak sekeras pemerintah Turki, misalnya, dalam menindak orang-orang HTI.

Pada tahun 2009, pemerintah Turki menahan orang-orang Hizbut Tahrir, bukan hanya membubarkan ormasnya. Bahkan di Rusia, HT dikategorikan sebagai organisasi teroris. Di Malaysia saja, pemerintah sana pada tahun 2015 memfatwakan, bahwa HT adalah kelompok yang menyimpang dan siapapun yang mengikuti gerakan pro-khilafah akan menghadapi hukum.

Kenapa Jokowi tidak bisa keras dan tegas pada HTI ini? Sulit. Karena jika Jokowi pakai tangan besi dalam menindak orang-orang HTI, maka isu “anti Islam” akan digoreng keras dan dijadikan rudal untuk menjatuhkannya.

Lawan Jokowi sudah terlalu banyak, mulai mafia sampai politikus, sehingga ia kesulitan jika menghajar mereka pada saat bersamaan. Karena itulah Jokowi merapatkan barisan dengan kiai-kiai NU, dalam misi perang panjangnya.

Perang ini akan dimulai Jokowi jika ia sudah pasti menjabat satu periode lagi. Pada periode kedua itu, Jokowi akan “nothing to lose” sehingga mudah menangani mereka.

Itulah sebab, Jokowi harus didorong untuk memenangkan “perang” dalam Pilpres ini. Sesudah itu kita dorong ia untuk lebih keras terhadap keberadaan HTI dan ideologi khilafahnya. Kalau tidak, negara kita akan kacau terus karena menghadapi ideologi yang tidak akan mati selama jasad mereka masih ada di badannya.

Membela Jokowi adalah membela kebhinekaan dan kesatuan negara Republik Indonesia dari rongrongan pemuja khilafah. (*)

Tadzkirah

Kenaikan Beragama Seseorang Ditandai oleh Akhlaknya yang Baik – KH A Musthofa Bisri

-- Akhlak

Buku

Islam ala Amerika
Judul: Islam Amerika Penulis: Imam Feisal Abdul Rauf Penerbit: Bandung, Mizan Terbitan: Pertama, Desember 2013 Tebal: 351 halaman ISBN: 978-602-1210-01-7 Peresensi: M Kamil Akhyari ...