Daftar | Login
Sabtu, 21 April 2018 - 14:55 wib

Mengapa Peraih Nobel Muslim Minim?

Mengapa Peraih Nobel Muslim Minim?

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

Kenapa umat Islam yang jumlahnya superjumbo (konon sekitar 1,5 milyar saat ini) tapi hanya sekelumit saja yang berhasil meraih penghargaan Nobel? Bahkan kalah jauh dengan kelompok “non-agama” (ateis, agnostik atau freethinker), apalagi dengan Yahudi dan Kristen. Sudah tak terkejar sama sekali.

Diprakarsai oleh ilmuwan Swedia Alfred Nobel, penghargaan bergengsi ini mulai diberikan kepada para ilmuwan dan tokoh yang dianggap memberi inovasi dan perubahan dunia sejak tahun 1901.

Ada enam kategori penghargaan ini: Fisika, Kimia, Ekonomi, Sastra, Pengobatan dan Perdamaian.

Padahal populasi Yahudi cuma sekitar 15an juta saja (sekitar 0,2% populasi dunia). Tetapi Yahudi bisa menghasilkan 201 peraih nobel (sekitar 22,5%) dari total sekitar 892 individu peraih nobel sejak 1901.

Peraih Nobel dari kelompok “non-agama” sekitar 10,5%. Umat Kristen yang paling banyak memperoduksi peraih Nobel sekitar 65,4% (427 orang). Dari jumlah ini, Protestan yang paling dominan, kemudian disusul “Kristen” (tanpa menyebut denominasi), lalu Katolik, dan terakhir Kristen Ortodoks.

Alfred Nobel sendiri adalah sosok yang menarik dalam hal perkembangan keagamaan. Ia awalnya seorang Kristen Lutheran, kemudian pindah haluan menjadi agnostik, dan terakhir di masa tuanya menjadi ateis.

* * *

Sekarang, bagaimana dengan umat Islam? Dibanding dengan saudara-saudara tuanya: Yahudi dan Kristen, si bungsu kalah jauh. Tertinggal di belakang. Umat Islam hanya memproduksi sekitar 1,4% saja (sekitar 12 orang peraih Nobel).

Dari 12 orang itu tidak ada satu pun yang masuk kategori “Muslim konservatif”. Mereka umumnya berlatar belakang moderat (baik dalam beragama maupun berpolitik). Bahkan ada yang mendeklarasikan diri sebagai “Muslim budaya” seperti Orhan Pamuk, peraih Nobel Sastra tahun 2006.

Ada pula yang berlatar belakang aktivis kemanusiaan dan anti-otoritarianisme seperti Shirin Ebadi (Iran), Tawakkul Karman (Yaman) atau Mohamed El Baradei (Mesir). Ada juga ilmuwan Ahmadiyah yang dimurtad-kafirkan oleh kelompok radikal-konservatif.

Mohammed Abdus Salam, peraih Nobel Fisika tahun 1979 adalah anggota Ahmadiyyah. Beliau adalah orang yang berjasa dalam mengembangkan infrastruktur keilmuan dan teknologi di Pakistan.

Ada lagi yang sastrawan keren-beken super-produktif dari Mesir Najib Mahfudh (Naquib Mahfouz), peraih Nobel Sastra tahun 1988, yang ironisnya juga dimurtad-kafirkan dan bahkan dihukumi bunuh oleh golongan Muslim aliran odong-odong.

Kemudian, sekitar tiga di antara peraih Nobel yang Muslim itu adalah warga Amerika dan menjadi profesor di Amerika: Orhan Pamuk (Columbia University), Ahmed Zewail (California Institute of Technology, peraih Nobel di bidang Kimia), dan Azis Sancar (University of North Caroline, peraih Nobel bidang Kimia).

* * *

Lalu, kenapa umat Islam begitu sedikit memproduksi peraih Nobel? Bagi kaum apolog species Mamat-Mimin akan selalu mengambinghitamkan “konspirasi Kristen-Yahudi”. Padahal Pak Alfred Nobel bukan Yahudi dan bukan Kristen.

Bagaimana mau mendapatkan hadiah Nobel, wong mereka sibuk ngurusi hal-hal yang remeh-temeh yang sama sekali tidak penting dan tak bermutu: soal surga-neraka, siksa kubur, hijab, jilbab dan gamis, poligami, haram mengucapkan Natal dan Tahun Baru, terompet, lilin, kembang api, bidadari, jenggot, jembut, dan yang terakhir air kencing onta.

Betul-betul bahlul, udik dan nggak bermutu! Sudah begitu, kalau diingatkan ngamuk kayak preman pengkolan mendem ciu. (*)

Tadzkirah

Kenaikan Beragama Seseorang Ditandai oleh Akhlaknya yang Baik – KH A Musthofa Bisri

-- Akhlak

Buku

Islam ala Amerika
Judul: Islam Amerika Penulis: Imam Feisal Abdul Rauf Penerbit: Bandung, Mizan Terbitan: Pertama, Desember 2013 Tebal: 351 halaman ISBN: 978-602-1210-01-7 Peresensi: M Kamil Akhyari ...