Daftar | Login
Senin, 25 September 2017 - 20:09 wib

PMII Versus Islam Radikal

PMII Versus Islam Radikal

Oleh: Ayi Sofwanul Umam

Sebagai salah satu eksponen pembaharu bangsa dan pengembangan misi intelektual, PMII dituntut berperan dalam upaya mempertahankan Keutuhan Bangsa yang saat ini sedang digoncang oleh gerakan-gerakan Islam sempalan.

Kelompok Islam sempalan yang akhir-akhir ini mencuat ke permukaan dengan mengusung isu agama ke publik, adalah kelompok yang pada pase awal kemerdekaan Indonesia, bersikukuh dengan Piagam Jakarta, dan menolak sebuah konsekuensi politik hasil negosiasi kebangsaan, yakni Pancasila yang kita kenal saat ini.

Kelompok ini yang kemudian seringkali dikategorikan sebagai kelompok Islam radikal, yang dalam sejarah sempat melancarkan gerakan DI/TII, gerakan pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah, yang saat itu berhasil ditumpas, kemudian mereka bermetamorfosis dalam membangun basis-basis kekuatannya untuk melancarkan gerakan jilid kedua.

Pada konteks basis umat, kelompok ini berhadapan dengan dua kekuatan besar umat Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama yang memiliki basis massa di pedesaan, dan Muhammadiyah yang memiliki basis massa di perkotaan.

Wajar jika kemudian langkah awal pembasisan, mereka menjadikan komplek-komplek perumahan sebagai target pembangunan basis sosial mereka, memanfaatkan kecenderungan masyarakat urban yang belum terkondisikan oleh NU maupun Muhammadiyah.

Pada konteks basis akademik, mereka mengembangkan dua langkah pembahasan; pertama, mempersiapkan kader lulusan timur tengah. Kedua, menguasai perguruan-perguruan tinggi.

Gagasan pertama, mempersiapkan kader lulusan timur tengah ini dimaksudkan untuk mengimbangi pengaruh para tokoh Islam pesantren (NU) yang menguasai referensi keilmuan klasik, dan tokoh Islam modern (Muhammadiyah) yang menguasai IPTEK.

Gagasan pertama ini dilaksanakan dalam rangka membangun supremasi keislaman baru, yang target awalnya adalah kaum abangan, namun seiring berjalannya waktu mereka pun merambah basis NU di pedesaan dan Muhammadiyah di perkotaan.

Kecenderungan umum mental bangsa Indonesia yang memandang Arab dan Timur Tengah itu mulia, berhasil mereka adaptasikan dengan membangun gagasan pertama ini.

Gagasan kedua, menguasai perguruan-perguruan tinggi ini dimaksudkan untuk menopang gerakan politik mereka.

Adagium populer “menguasai kampus saat ini, menguasai negara esok hari”, sepertinya sangat dipahami oleh mereka. Ini bisa dilihat dari sasarannya, yakni penguasaan kampus umum negeri.

Pilihan jenius dalam menentukan target penguasaan ini dilihat dari peta keumuman penguasaan akademik kelompok Islam dominan, yakni NU dan Muhammadiyah.

NU maupun Muhammadiyah sangat dominan dalam penguasaan kampus agama, baik di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS), tapi lemah di kampus umum, negeri maupun swasta.

Gagasan kedua ini merupakan persiapan dalam penguasaan birokrasi pemerintahan yang ada di Indonesia, mengingat setiap kampus umum negeri memiliki beragam program studi strategis.

Dalam konteks basis logistik, selain studi di Timur Tengah, mereka bekerja sama dengan lembaga pendistribusian dana zakat/shodaqoh/infak, dll, untuk mendanai gerakan mereka.

Pada titik ini, setidaknya ada beberapa hal yang perlu PMII inisiasi dalam rangka memukul mundur gerakan Islam radikal di Indonesia. Pertama, konsolidasi Kekuatan Islam Dominan di Indonesia.

Ini diperlukan dalam rangka membangun solidaritas dan Kerjasama Islam dominan dan dalam rangka membangun musuh bersama.

Kedua, mendorong Islam dominan, dalam hal ini NU, untuk mengambil alih pendistribusian dana-dana Timur Tengah dengan difasilitasi oleh pemerintah.

Ketiga, menguatkan kaderisasi di kampus umum dengan mengonsolidir jaringan alumni pesantren dan sekolah NU, pengkondisian calon mahasiswa baru yang menggunakan jalur reguler/SNMPTN maupun jalur lain, sosialisasi PMII dan kegiatannya kepada para siswa/i pra kelulusan, dll.

Keempat, memunculkan eksistensi pemikiran dan gerakan para ulama lokal melalui media YouTube, Facebook, Tweeter, Instagram dll, dalam rangka menyebarkan gagasan-gagasan Islam Moderat. Kelima, mendorong terciptanya jaringan Kaderisasi yang kokoh.

Penguatan kaderisasi di tingkatan pelajar/santri, Mahasiswa, pemuda, dan ulama dalam rangka membangun jaringan basis keumatan yang kuat dan terhubung. (*)

Ayi Sofwanul Umam, Sekretaris Umum PKC PMII Jawa Barat.

Tadzkirah

Kenaikan Beragama Seseorang Ditandai oleh Akhlaknya yang Baik – KH A Musthofa Bisri

-- Akhlak

Buku

Islam ala Amerika
Judul: Islam Amerika Penulis: Imam Feisal Abdul Rauf Penerbit: Bandung, Mizan Terbitan: Pertama, Desember 2013 Tebal: 351 halaman ISBN: 978-602-1210-01-7 Peresensi: M Kamil Akhyari ...

Pojok Santri

Dalam Proses
Oleh: Abdul Hady JM
Seseorang yang terlalu memikirkan akibat dari suatu keputusan atau tindakan, sampai kapan pun dia tidak akan menjadi pemberani. — Ali bin Abi Thalib ...