Daftar | Login
Senin, 25 September 2017 - 20:07 wib

Menggugat (Lagi) Karakter Kebudayaan Kita?

DI antara kita barangkali sangat bahagia bila menghadiri acara perayaan ulang tahun. Tidak terkecuali saya saat menghadiri perayaan hari lahir organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ke-62 di Kota Malang. Awalnya terbesit di dalam benak, barangkali sebagaimana perayaan hari lahir sebagian besar organisasi; ada potong tumpeng, tiup lilin atau berbagi pesan dan kesan dari alumni. Bayangan dalam benak saya itu tiba-tiba buyar tatkala masuk pada acara inti. Ternyata saya disuguhi sebuah perbincangan hangat tentang upaya mengembalikan kembali karakter bangsa Indonesia yang berkebudayaan.

Perbincangan ini diawali dengan pertanyaan penuh selidik dan sedikit berbau kecurigaan: benarkah bangsa Indonesia memiliki karakter kebudayaan sehingga harus dikembalikan seperti sediakala? Atau jangan-jangan bangsa ini seperti buih di lautan, yang sebenarnya tidak memiliki prinsip dan jati diri?

Mula-mula perbincangan dimulai dari gelitikan-gelitikan serius untuk menemukan kembali karakter kebudayaan bangsa yang mulai tertindih budaya baru yang lahir dari peradaban modern, yaitu kapitalisme. Bahkan bukan hanya tertindih, melainkan sudah tergerus oleh budaya-budaya kekinian. Kenyataan ini yang mengantarkan setiap individu yang hadir saat itu bertanya-tanya dalam pikiran, apa sebenarnya karakter kebudayaan bangsa kita?

Pertanyaan bermata kail ini sebetulnya memecut ketidaksadaran diri bahwa lambat laun kita mulai kehilangan identitas diri sebagai sebuah bangsa agraris, yang pada masa kerajaan Majapahit menjadi bangsa maritim yang sangat besar. Pertanyaan ini pula memacu hati dan pikiran untuk menemukan kembali karakter kebudayaan kita yang sudah terlampau jauh tenggelam dalam lingkaran industri dan kapitalisme.

Berbicara budaya dan kebudayaan, tentu tidak bisa dilepaskan dari interaksi sosial kekinian suatu kelompok masyarakat. Sebab, budaya merupakan buah dari cipta, rasa dan karsa manusia yang berkembang dari waktu ke waktu. Kenyataan bahwa karakter kebudayaan bangsa kita mulai tergerus menjadi bukti bahwa tanpa rasa kepemilikan dan kecintaan untuk terus mempertahankan, sebuah karakter akan terbunuh dan lenyap. Ini membuktikan bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak berubah. Heraclitus (540-480 SM), seorang filosof alam dari Ephesus di Asia Kecil mengungkapkan, segala sesuatu terus mengalir, yang berarti segala sesuatu terus mengalami perubahan.

Pernyataan filosofis ini terbukti dalam proses perkembangan masyarakat Indonesia yang mengalami perubahan hingga empat fase. Pertama, fase komunal primitif. Di fase ini, masyarakat mempertahankan hidup dengan cara bergantung pada alam. Alat produksi yang dipakai adalah batu. Mereka bekerjasama secara kolektif.

Kedua, fase feodalisme atau dalam bahasa Karl Marx disebut sebagai masyarakat feodal. Pada fase ini, kelas tertinggi ada di tangan kaum feodal atau golongan paling elit, yaitu raja, bangsawan dan agamawan. Nilai-nilai sosial yang terbentuk pada fase ini adalah primordialisme (kesukuan), patriarki, monarki absolut dan mitos.

Ketiga, fase kapitalisme, yaitu fase masyarakat yang dikuasai oleh para pemilik modal. Menurut Marx, kapitalisme membangun sistem sosio-ekonomi dengan jalan mencari keuntungan yang diperoleh dari proses produksi, yaitu mengorganisasikan mekanisme produksi tertentu sehingga mengurangi biaya produksi seminimal mungkin. Menurut Marx, kelas-kelas sosial dalam masyarakat kapitalis ini terbagi menjadi kelas pemilik modal, kelas penguasa, kelas angkatan perang, kelas cendekiawan, kelas feodal, dan kelas buruh.

Dari masyarakat kapitalis ini kemudian kembali lagi ke masyarakat komunal, namun tidak primitif. Dalam pandangan Marx, ini disebut sebagai masyarakat sosialisme, yang sebetulnya merupakan anak dari kapitalisme. Masyarakat sosialisme merupakan fase keempat dalam perkembangan masyarakat Indonesia. Fase ini lahir dari perjuangan revolusioner kelas buruh atau kaum proletar dalam upaya menghancurkan kapitalisme. Masyarakat sosialis adalah masyarakat yang bekerjasama secara kolektif dengan alat-alat produksi yang dihasilkan dari kebudayaan yang lebih tinggi dari masyarakat komunal primitif.

Sampai pada titik ini, mengingat keberagaman etnis, budaya, suku, bahasa dan agama yang ada di Indonesia, maka sebetulnya masyarakat ini adalah masyarakat multi publik. Masyarakat yang mampu bekerjasama dalam keberagaman. Masyarakat yang setiap kerjanya didasarkan pada nilai-nilai kolektivitas, tenggang rasa dan kesetaraan. Nilai-nilai ini hanya terkandung dalam budaya gotong royong yang saat ini mulai tergerus, tertindih dan bahkan sengaja dijauhkan dari interaksi sosial masyarakat dan bangsa Indonesia. Gotong royong adalah upaya saling bahu-membahu, saling merasa, dan saling membantu. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.

Gotong royong memiliki nilai-nilai universal yang lentur, yang sebetulnya sudah terjalin jauh sebelum negara ini berbentuk republik dengan sistem politik demokrasi. Sebagai misal, di pelosok-pelosok daerah, karakter kebudayaan semacam ini, dari sebelum zaman penjajahan hingga sekarang masih terjalin meski tidak sehangat dulu. Hal semacam ini bisa dilihat dari kekompakan masyarakat di pelosok-pelosok desa saat hendak membangun rumah, bercocok tanam atau pada saat memanen.

Contoh lain karakter budaya gotong royong ini bisa dilihat dari masyarakat jalanan. Malang merupakan salah satu contoh kota yang memiliki masyarakat jalanan, meski tidak menutup kemungkinan masyarakat yang sama juga ada di kota-kota lain. Di dalam masyarakat jalanan, terkandung nilai-nilai toleransi, tenggang rasa, dan kebersamaan untuk saling menguatkan. Mereka bahu-membahu untuk bertahan hidup di tengah kerasnya arus kehidupan.

Masyarakat jalanan mampu mengatasi permasalahan dalam kelompok mereka tanpa harus menunggu bantuan dari kaum elit. Bila yang satu sakit, individu lainnya bahu-membahu mengumpulkan uang dan membawa temannya berobat. Inilah sebetulnya contoh kecil dari karakter kebudayaan gotong royong. Namun persoalan yang muncul kemudian, karakter ini mulai tergerus dari kehidupan sosial kita. Kaum terpelajar seringkali meneriakkan antikapitalisme, tapi sikapnya mencerminkan kapitalisme itu sendiri. Ibarat sebuah istilah, tubuh ini sudah sakit, namun kita tidak mau berpaling dari sikap yang semakin memperparah sakit itu.

Ini adalah contoh kecil bagaimana kapitalisme sebetulnya selalu berkelindan di depan mata. Dampak yang diakibatkan oleh kapitalisme ini adalah egoisme dan keengganan untuk berinteraksi dalam sosio-kultural masyarakat. Oleh sebab itu, satu-satunya cara untuk tetap menghidupkan karakter kebudayaan bangsa kita adalah dengan menghidupkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam budaya gotong royong.

Gotong royong menuntut adanya kejujuran sosial. Selain daripada itu, masyarakat gotong royong adalah masyarakat yang mau mengakui potensi orang lain sebaik ia mengakui potensi dirinya sendiri. Masyarakat yang kuat secara prinsip dan tidak berbasa basi. Masyarakat yang tegas dalam menolak keburukan dan tidak gengsi menerima kebenaran. Pemahaman ini senada dengan semboyan Malang Kucecwara, yang berarti Tuhan menghancurkan yang bathil dan menegakkan yang benar.

Terlepas dari semua itu, sudah menjadi kewajiban bagi siapa saja yang merasa dirinya lahir di negeri Indonesia, memakai bahasa Indonesia dan memakan hasil bumi Indonesia untuk selalu menjunjung karakter kebudayaan yang sudah bertahun-tahun terpatri dalam jiwa. Kiranya perlu ditanam dalam dada, di mana kaki berpijak di situ langit seharusnya dijunjung. (*)

Latif Fianto, Pecinta buku, menulis cerpen dan esai, bergiat di Komunitas Sastra Malam Reboan Malang.

Tadzkirah

Kenaikan Beragama Seseorang Ditandai oleh Akhlaknya yang Baik – KH A Musthofa Bisri

-- Akhlak

Buku

Islam ala Amerika
Judul: Islam Amerika Penulis: Imam Feisal Abdul Rauf Penerbit: Bandung, Mizan Terbitan: Pertama, Desember 2013 Tebal: 351 halaman ISBN: 978-602-1210-01-7 Peresensi: M Kamil Akhyari ...

Pojok Santri

Dalam Proses
Oleh: Abdul Hady JM
Seseorang yang terlalu memikirkan akibat dari suatu keputusan atau tindakan, sampai kapan pun dia tidak akan menjadi pemberani. — Ali bin Abi Thalib ...