Daftar | Login
Senin, 25 September 2017 - 20:28 wib

Penolakan Patung Kwang Seng Tee Koen Mirip Perlakuan Wahabi

Mahrus Ali - SantriNews.com
Penolakan Patung Kwang Seng Tee Koen Mirip Perlakuan WahabiPatung Kwang Seng Tee Koen (santrinews.com/ist)

Surabaya – Polemik pendirian Patung Kwang Seng Tee Koen di Klenteng Kwan Sing Bio Tuban yang berujung penutupan sementara oleh pemerintah kabupaten layak dicermati.

Menurut Koordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Jawa Timur Aan Anshori, polemik itu bukan semata terkait problem perijinan, namun lebih dari itu. Yakni, terdapat intensi kuat penggiringan masalah ini ke isu SARA. Dalam hal ini kebencian terhadap etnis dan keagamaan tertentu.

“Pemerintah harus jeli dan waspada, sebab tidak menutup kemungkinan sel tidur ISIS di sekitar lokasi kejadian telah bangkit dan mengkonsolidasi kekuatan bersama kelompok intoleran lain,” tegasnya.

Jahatnya, kata Aan, dari gerakan ini adalah digunakannya isu NKRI dan kedaulatan sebagai kedok. Bagaimana mungkin mengakui pluralitas namun menikamnya dari belakang dengan diam-diam?.

“Kita tahu, ISIS terkenal sangat antipati terhadap situs-situs yang dianggap punya nilai relijiusitas, baik milik muslim, apalagi non-muslim,” tandasnya.

“Serangan terhadap keberadaan patung ini juga punya kesamaan pola dengan rekam jejak perlakuan kelompok Wahabi terhadap situs keagamaan milik non-Wahabi,” sambungnya.

Perlu diketahui, bangkitnya radikalisme-intoleran yang penuh kebencian seperti di Tuban sesungguhnya mengafirmasi temuan survey Wahid Foundation Agustus 2016. Dalam laporannya, hampir 60% muslim dewasa Indonesia mengaku punya kelompok yang dibenci —setidaknya dengan dua ciri; Tionghoa dan non-Muslim. Sebanyak 7,7% dari total responden mengaku siap melakukan aksi radikalisme jika ada kesempatan.

Karena itu, JIAD Jatim meminta pemerintah bersikap tegas dalam menghalau setiap intensi dan gerakan intoleran yang membahayakan kebhinekaan dengan kedok apapun

“Kami mengecam para politisi yang berupaya menunggangi isu ini untuk meraih popularitas demi politik elektoral provinsi yang sebentar lagi akan dihelat,” tegasnya.

JIAD juga menyerukan agar seluruh elemen masyarakat untuk lebih bersemangat dan bahu-membahu dalam melawan berbagai aksi radikal-intoleransi.

“Hari ini kita menyaksikan patung yang ditutupi, bisa jadi besok giliran kuburan-kuburan keramat yang akan disasar, seperti yang dialami oleh makam Datu Abulung di Martapura, Kabupaten Banjar, makam Datu Sanggul di Tapin, dan makam Datu Tumpang Talu di Kandangan, Kalimantan Selatan, sehari lalu,” pungkasnya. (rus/onk)

Tadzkirah

Kenaikan Beragama Seseorang Ditandai oleh Akhlaknya yang Baik – KH A Musthofa Bisri

-- Akhlak

Buku

Islam ala Amerika
Judul: Islam Amerika Penulis: Imam Feisal Abdul Rauf Penerbit: Bandung, Mizan Terbitan: Pertama, Desember 2013 Tebal: 351 halaman ISBN: 978-602-1210-01-7 Peresensi: M Kamil Akhyari ...

Pojok Santri

Dalam Proses
Oleh: Abdul Hady JM
Seseorang yang terlalu memikirkan akibat dari suatu keputusan atau tindakan, sampai kapan pun dia tidak akan menjadi pemberani. — Ali bin Abi Thalib ...