Daftar | Login
Senin, 25 September 2017 - 20:19 wib

Hikayat Sebatang Pohon

Oleh: Enha Ahyar

Jang! Di belakang rumah kita, tidak ada lagi pohon karet daun lebar: tempat dulu kau bersembunyi dari Nek Sitoh yang mengejarmu dengan membawa parang buntung karatan, sebab kau memetik mentimun di kebunnya: di belakang rumah kita.

Cerita Mak beberapa bulan lalu lewat surat, yang dikirim bersama paketan getas kering atau kretek, begitu orang kampungmu menyebutnya.

***

Hari ini, untuk pertama kalinya kau pulang dari rantau (belajar di sebuah pesantren). Seperti dulu-tujuh tahun yang lalu, kau selalu masuk rumah melalui pintu belakang. Pintu belakang, sebenarnya kau tidak pernah menyebut istilah ini untuk pintu yang selalu kau gunakan untuk masuk ke dalam rumahmu itu. Entahlah, kau juga tidak tahu kapan istilah pintu belakang itu timbul, hingga hari ini kau masuk melalui pintu itu lagi.

Dan memang, sebenarnya rumahmu itu tidak ada depan, tidak ada belakang. Belakang itu depan, depan itu belakang. Sama saja.

***

Kau tidak ingin menjadi apapun dan siapapun. Kau hanya ingin sebatang pohon karet daun lebar itu ada sampai berpuluh-puluh bahkan ratusan tahun ke depan. Sejak itulah, pohon karet daun lebar itu disebut pohon harapan.

***

Pohon karet daun lebar atau pohon harapan itu terletak seratus meter dari rumahmu: di belakang rumahmu. Kau dapat melihat daunnya yang lebar jatuh ditiup angin, dari tempat kau duduk ketika makan lempah darat bersama ayukmu. Daunnya lebar-seperti daun sukun, tapi tebal, hijau dan halus permukaannya. Jangkarnya yang serabutan terlihat indah: ada yang serupa orang rukuk atau sujud ketika sholat.

Di kemudian hari, orang-orang kampung, khususnya ibu-ibu suka membuang sampah keluarganya di pangkal pohon ini. Mereka lebih suka membuangnya di sini, daripada membuangnya di tempat lain (sungai) bisa menyebabkan banjir atau takut pada Bujang Antan.

Suatu sore, setelah kau dan kawan-kawanmu menerima tanda kelulusan dari sekolah, kalian berkumpul di bawah pohon harapan-menyampaikan pesan dan kesan masing-masing selama sekolah. Dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Kalian bertukar cerita tentang rencana selanjutnya. Ada yang akan melanjutkan kuliah di pulau ini ataupun di luar pulau. Di Jawa, Sumatera, Kalimantan. Bahkan Manaf, akan ikut Bak-nya ke Mekah untuk umroh sebagai upah kelulusannya tahun ini. Tiga tahun berturut-turut Manaf tidak lulus, dan baru lulus tahun ini.

Kau sendiri tidak tahu. Mak-Bak mu menyerahkan semuanya kepadamu. Hingga akhirnya, kau memutuskan untuk belajar di sebuah pesantren di Madura. Kau merantau, Jang!

***

***

Harus aku ceritakan juga, sebelum pohon harapan ini musnah; ditumbangi alat berat, yang kelas dua sekolah dasar dulu kau kenal dengan nama Boldozer. Entahlah, kau hanya dengar dari Pak Sibrun ketika mengajar mata pelajaran ilmu pengetahuan alam.

Dan beberapa hari setelah itu, kau tahu tulisan itu dari Mad Tukel yang cerdas, tapi selalu tidak naik kelas. Setiap kelas, dia jalani dua tahun. Kelas satu dua tahun. Kelas dua dua tahun. Kelas tiga dua tahun. Begitulah seterusnya.

Meski begitu, perkembangan daya pikirnya sangat lamban, bahkan kemudian hari, kau temukan Yan berak di kelas. Sesuatu yang membuatmu geli. Selalu ingin tertawa. Namun, tidak bagi Mad Tukel. Kejadian itu menjadi daya tarik yang luarbiasa bagi Mad Tukel.

Aha, pohon harapan.

Orang-orang kota, yang selalu mengatasnamakan peneliti itu sibuk berunding dengan semua pihak: lurah, aparat kampung dan semua warga Tipuak. Sebagian warga setuju. Sebagian yang lain tidak. Begitulah pro- kontra tentang pertambangan (timah) itu. Dan sampailah kepada suatu hari. Hari di mana pertambangan itu dimulai.

Jang, orang akan memulai menambang Timah dari belakang rumah kita.

Tulis Mak di paragrap yang lain. Kalimat itu membuat dadamu sesak, sekaligus ingin memberontak: teriak sekeras-kerasnya, meneriaki segala kecongkakan dan keserakahan manusia. Kau mendengus kepayahan. Itulah awal musnahnya pohon harapan. Tumbangnya cita-cita.

Begitulah. Pertambangan terus berjalan. Seiring dengan itu, pro-kontra warga pun mewarnai pertambangan itu. Warga yang setuju mulai gusar dengan sikap dan tindakan para pengusaha, yang awalnya akan memberikan lima puluh persen hasil pertambangan itu untuk warga, untuk pembangunan Tipuak.

Warga yang tidak setuju dari awal pun semakin menjadi-jadi. Sumpah serapah mengalir seperti hujan. Berdesakan di setiap lorong kampung. Bahkan, warga mengancam akan bertindak tegas. Keras. Apabila pertambangan itu tidak juga menguntungkan warga dan kampung Tipuak.

Darah mengalir dari sakan, berbaur dengan kecipak kelabu air kolong. Amis.

***

Inilah kenyataannya. Di belakang rumahmu, sudah tidak ada lagi pohon harapan itu. Pohon karet daun lebar. Hari ini, tujuh tahun kemudian, untuk pertama kalinya kau pulang dari rantau (belajar di sebuah pesantren).

Yogjakarta, 2012-2013

Catatan:
1]. Main pangkak biji karet: permainan adu biji karet-dengan melakukan suit terlebih dahulu. Bagi yang kalah meletakkan biji karetnya di bawah biji karet yang menang. Nah, siapa yang biji karetnya pecah, dialah yang kalah.
2]. Main anak tambi: permainan tradisional anak-anak di Bangka-dengan cara bergelantungan di atas pohon Tambi.
3]. Lempah Darat: salah satu masakan khas Bangka.
4]. Kolong: Lubang menyerupai danau atau sungai. Bekas penambangan Timah.

Enha Ahyar, lahir di Paya Benua, Pulau Bangka. Kini tinggal di Yogjakarta.

Tadzkirah

Kenaikan Beragama Seseorang Ditandai oleh Akhlaknya yang Baik – KH A Musthofa Bisri

-- Akhlak

Buku

Islam ala Amerika
Judul: Islam Amerika Penulis: Imam Feisal Abdul Rauf Penerbit: Bandung, Mizan Terbitan: Pertama, Desember 2013 Tebal: 351 halaman ISBN: 978-602-1210-01-7 Peresensi: M Kamil Akhyari ...

Pojok Santri

Dalam Proses
Oleh: Abdul Hady JM
Seseorang yang terlalu memikirkan akibat dari suatu keputusan atau tindakan, sampai kapan pun dia tidak akan menjadi pemberani. — Ali bin Abi Thalib ...