Daftar | Login
Kamis, 13 Desember 2018 - 00:49 wib

Kain Mori Budhe Niti

Oleh: Widhiarti

PAGI ini, ketika jarum jam masih menunjukkan pukul enam pagi, Budhe Niti memanggilku ke kamarnya. Kamarnya bersebelahan dengan kamar kakak ketigaku, Mas Samsul. Suaranya berbisik lirih saat berbicara padaku. Budhe Niti memintaku membelikannya sesuatu. Namun tidak ada seorang pun yang boleh tahu.

Ini semacam sebuah rahasia besar yang sangat penting dan tertutup. Hanya aku, Budhe Niti, dan Tuhan yang boleh tahu. Budhe Niti memang yang paling dekat denganku. Terlihat kecemasan di wajah budhe Niti yang mulai dipenuhi kerutan saat memintaku merahasiakan ini dari semua orang. Terutama ibu. Ibu tak boleh sampai tahu. Pasti.

Budhe Niti memintaku membelikannya kain. Budhe Niti menyuruhku membeli dengan ukuran sesuai keperluannya. Budhe Niti tidak lupa menginstruksikan agar aku membelikannya di toko kain AS-SALAM. Pemiliknya adalah seorang laki-laki keturunan Arab. Tokonya berukuran lima belas kali tujuh belas meter. Posisinya di pinggir jalan utama kabupaten. Gulungan kain warna-warni menyemarakkan isi toko. Aba Yusuf pemiliknya, dibantu dua pegawai yang ramah.

Sudah hampir lima belas tahun Budhe Niti berlangganan di sana. Budhe Niti sering mengajakku ke sana menjelang lebaran tiba. Membeli kain untuk baju lebaran. Baju koleksi Budhe Niti sangat banyak dan beragam. Hampir semua bahannya dibeli dari toko kain milik aba Yusuf. Kali ini Budhe Niti tidak memintaku membeli kain sutra, katun, beludru, brokat, atau paris. Budhe Niti sendir jugai tidak bermaksud membuat kebayak atau baju muslimah.

Budhe Niti adalah seorang pensiunan dari Dinas Pertanian bagian pengawasan pangan di Jatim yang ditempatkan di Kediri. Baru empat tahun terakhir Budhe Niti tinggal bersama kami. Budhe Niti dulunya tinggal seorang diri di Kediri, setelah saudaraku yang merawatnya menikah, Budhe Niti dipaksa pindah ikut kami.

Suami Budhe Niti dulunya seorang pedagang. Mereka bercerai. Suami Budhe Niti kesemsem janda kembang. Budhe Niti tidak lagi menikah setelah kejadian dua puluh lima tahun itu berlangsung. Budhe Niti dikaruniai seorang anak perempuan yang meninggal karena sakit demam berdarah saat usianya menginjak empat tahun.

Budhe Niti, begitu aku memanggilnya adalah saudara tiri dari ibu, satu ayah dan berbeda ibu. Walaupun begitu, mereka sering cek-cok. Saat ini umur Budhe Niti menginjak enam puluh tahun, sedang ibu sendiri umurnya sekitar lima puluh satu tahun. Budhe Niti paling dekat denganku.

Walaupun sudah berumur, Budhe Niti gemar berdandan. Pakaiannya warna-warni. Budhe Niti juga suka memakai kosmetik. Suka pakai gincu, alis mata, dan bedak. Budhe Niti gemar mengolesi minyak angin di sekujur tubuhnya, itu membuat ibu muntah-muntah setiap pagi.

Dadaku bergemuruh. Terlintas dalam bayanganku jika ibu tahu hal ini, sesuatu yang tidak baik akan terjadi di rumah.

Akhirnya ibu meluruskan niat Budhe Niti. Berselang satu setengah bulan, sepupuku meninggal. Kain mori Budhe Niti diberikan untuk pengurusan jenazah sepupuku. Budhe Niti meminta ibu membeli kain mori lagi. Ibu meluruskan niatannya. Berselang dua minggu, keponakanku meninggal. Anak dari kakakku yang pertama. Ibu sangat terpukul. Ibu menuding ini karena ulah Budhe Niti yang membeli kain mori, padahal tidak ada yang meninggal.

Sepulang dari kantor, aku tak langsung pulang. Aku mampir ke toko kain milik Aba Yusuf. Membelikan kain mori pesanan Budhe Niti. Aku harus melakukannya dengan hati-hati. Jika ibu tahu pasti akan muntab. Sudah terbayang apa yang akan terjadi.

Matahari terik siang ini, orang-orang bergegas seperti adegan dalam sebuah film Jakarta. Aku mengemudi dengan baik menuju rumah ibu untuk bertemu Budhe Niti. Budhe Niti ada di kamarnya. Menyambutku dengan seuntas harapan yang terang. Dia merasa hanya aku yang mampu memahaminya selama ini. Aku mengerti kegalauannya, maka dari itu aku bersedia membelikannya kain mori. Apa salahnya, biar dia merasa sedikit tenang. Lagi pula aku bukan tipe orang yang percaya hal-hal begituan.

Sepupuku meninggal menurutku karena kecelakaan lalu lintas, bukan karena budhe Niti membeli kain mori untuk persiapan jika dirinya dipangil Tuhan sewaktu-waktu. Demikian juga dengan keponakanku, dia meninggal karena sakit tifus, bukan karena dua minggu sebelumnya Budhe Niti membeli kain mori.

Aku paham, Budhe Niti tak ingin merepoti kami. Budhe Niti nampak bahagia saat aku datang membawa pesanannya. Matanya bersinar. Budhe Niti mengupahiku selembar uang lima puluh ribuan. Budhe memang selalu begitu. Jika meminta tolong kami selalu mengupahi, jika kami menolak dia akan tersinggung.

Budhe Niti tersenyum. Sisa kecantikannya masih terlihat jelas. Begitu.

Setelah bercerai budhe Niti memang tidak menikah lagi. Dia meniti masa tua dengan uang pensiunannya. Dulu dia bepergian dari rumah saudaranya yang satu ke rumah saudaranya yang lain secara bergilir. Rumahnya dijual untuk membayar hutang suaminya di bank setelah usaha yang dirintis suaminya bangkrut.

***

Kondisi keluargaku juga pas-pasan. Tak bisa banyak membantu kesulitan Budhe Niti. Ayah adalah kepala sekolah SD. Dia meninggal saat aku masih di kandungan. Ayah terkena serangan jantung. Kakakku yang pertama adalah seorang bidan. Kakakku yang kedua memiliki tambak sebagai mata pencaharian utama keluarganya. Kakakku yang ketiga adalah seorang guru SMP di desaku. Aku sendiri menjadi seorang pegawai bank di kabupaten.

Budhe Niti seseorang yang serba bisa. Selalu ingin melakukan segala sesuatu dengan sebaik mungkin. Saat tinggal bersama kami, budhe Niti selalu melakukan semuanya sendiri. Mencuci bajunya sendiri, mencuci piring, dan menata kamarnya sendiri setiap pagi. Dalam satu hari budhe Niti hanya mandi satu kali.

Budhe Niti suka memberikan sejumlah uang dan memintaku ke pasar untuk belanja. Ayam untuk dimasak ayam kalasan, beberapa kilo jeruk, dan beberapa perlengkapannya. Budhe Niti selalu menempeli hampir sekujur tubuhnya dengan koyo. Persediaan obat-obatnya sangat lengkap. Rambutnya ikal sebahu. Biasa memakai dua bandana kepala dan penjepit rambut warna merah berbentuk bunga kamboja. Selendang merah selalu melingkar di lehernya.

Aku terkekeh mendengar cerita Budhe Niti. Sebelumnya Budhe Niti tak pernah bercerita hal beginian. Aku memang yang memaksanya. Seandainya hari ini aku tidak mengantarkan kain pesanannya, aku tak akan mendengarkan hal-hal semacam ini.

Aku mengangguk tanda memahami ucapan Budhe Niti.

Ibu memang berbeda dengan Budhe Niti. Ibu sejak kecil tidak pernah bekerja dan hidup susah. Budhe Niti tidak tinggal bersama kakek, Budhe Niti ikut ibunya. Setelah ditinggal mati ayah, ibu hanya cukup mengandalkan pensiunan. Kakak-kakakku yang banting tulang saling membantu untuk menyekolahkan adik-adiknya.

Siang itu aku ngobrol bersama Budhe Niti hingga sore. Banyak yang dia ceritakan. Nostalgia bersama masa lalu. Wajahnya sumringah. Aku merasa Budhe selama ini tertekan dengan kelakuan ibu. Budhe Niti tak memiliki siapa pun. Seharusnya ibu yang merupakan satu-satunya kerabat bisa memberikannya rasa nyaman. Selama ini Budhe Niti tidak pernah merepotkan. Budhe Niti juga banyak membantu untuk menyekolahkanku hingga aku menjadi seperti sekarang ini.

***

Budhe Niti meninggal bukan karena sakit yang dideritanya. Tadi malam, sekitar pukul dua belas malam, ada sekelompok pencuri membobol rumah. Budhe Niti nekad berteriak hingga ada warga yang menolong, tapi nyawanya melayang digasak pisau lipat pencuri. Tak ada satu pun barang yang hilang. Budhe Niti telah menyelamatkan kami, sekalipun nyawanya telah dipertaruhkan.

Lidahku keluh.

Mataku berkunang-kunang. Badanku tiba-tiba terasa ringan. Dadaku sesak. Sampai desahan nafas terakhir pun, Budhe Niti tidak mau merepotkan orang lain. Mungkin begini rasanya saat ibu dan kakak-kakaku ditinggal ayah pergi. Mataku tiba-tiba gelap. Hanya terdengar bacaan kakakku mengaji sebelum kemudian aku tidak bisa merasakan apa-apa. (*)

September 2011

Wdihiarti, cerpenis kelahiran jombang. Alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS Unesa ini karya-karyanya dipublikasikan di media lokal maupun nasional.

 

Tadzkirah

Kenaikan Beragama Seseorang Ditandai oleh Akhlaknya yang Baik – KH A Musthofa Bisri

-- Akhlak

Buku

Islam ala Amerika
Judul: Islam Amerika Penulis: Imam Feisal Abdul Rauf Penerbit: Bandung, Mizan Terbitan: Pertama, Desember 2013 Tebal: 351 halaman ISBN: 978-602-1210-01-7 Peresensi: M Kamil Akhyari ...