Daftar | Login
Senin, 20 November 2017 - 20:17 wib

Hati Yang Terbakar

Achmad Jazuli - SantriNews.com
Hati Yang Terbakar

Oleh : Dr Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi

DIA mengunjungiku setelah lama menghilang, aku kira selama ini dia telah meninggalkan Kairo dan telah kembali ke Negerinya. Setelah aku benar-benar yakin bahwa itu adalah dia, maka aku menyambutnya dan mempersilahkan ia masuk. Ku siapkan secangkir Teh Hangat untuknya. Sedangkan pada waktu itu malam sedang hujan dengan cuaca yang sangat dingin.

Meskipun Musim Dingin di Kairo lebih ringan dari pada di Suriah, akan tetapi di sini banyak hal yang menyebabkan hawa dingin begitu mencekik, entah tak tahu dari mana hawa dingin tersebut datang.

Aku duduk menghampirinya, ku ajak ia berbicara, kemudian ku tanyakan bagaimana kabar dan keadannya. Hanya saja aku sedikit khawatir saat melihatnya memandang ke sekitar dengan pandangan yang lepas linglung. Dia berkata padaku dengan ucapan yang tak terarah.

Aku rasa pikirannya sudah tak seteguh dulu. Ku lihat ia melontarkan satu pembicaraan ke pembicaraan yang lain, dari satu tema ke tema lain. Hingga aku bisa menangkap dari penampilan luarnya, dari arah pembicaraannya, sesungguhnya dia sedang menanggung beban sakit dari bencana yang menimpanya. Di mana bencana tersebut telah membuat kesan pada dirinya seolah orang yang tertidur karena pingsan. Sebuah bencana yang membuat Hijab antara lisan dan pikirannya. Yah, dia mati membeku tanpa sebab yang diketahui.

Setelah beberapa saat, aku bisa membangunkannya dari tidur panjangnya, agar dia bisa memiliki kesadaran penuh dari Bencana Mematikan yang ia ceritakan.

Dia berkata kepadaku: “Aku telah memasuki hari-hari di mana kehidupanku penuh dengan hati yang kosong dan pikiran yang teristirahatkan. Seolah-olah aku merasa takut bahwa ketenangan ini akan sirnah. Maka aku meminta ketenangan dan kasih sayang dari Allah.

Aku selalu menyelimuti hatiku, ku lipat ia-nya dengan Hijab tak lain karena takut terkena kobaran api yang membakarnya atau tangan yang mencurinya dari Masyarakat di sini hingga pada masa Allah memberi ketentuan. Dan ternyata aku telah terjatuh pada hal yang aku takutkan selama sebagaimana yang kau lihat sekarang.

Aku telah melihat apa yang aku khawatirkan tersebut, andai saja aku tak tahu jalan yang telah membuatku terjerumus ke dalamnya. Saat itu aku melihat Dia sedang menuruni tangga Apartemen yang aku tempati, sedangkan aku menaiki tangga lainnya. Secara tiba-tiba dua pasang matanya bertemu dengan mataku, dua pandangan yang saling terhubungkan dan membeku dalam beberapa saat.

Adapun aku, apa yang aku lihat? Aku tidak mengatakan padamu bahwa aku melihat sebuah keindahan, bukan pula sihir bukan pula ungkapan yang sejenisnya. Karena aku tahu, bisa saja semua ini hanyalah kedustaan apabila hal ini timbul dari seseorang yang mencintai.

Hanya saja aku memastikan bahwasannya aku tidak dusta dalam hal ini, yaitu tidaklah aku melihatnya melainkan terbayangkan dalam benakku bahwasannya aku sedang dihadapkan dengan seorang wanita yang aku kenal sejak dahulu kala.

Sedangkan badan yang berdiri di dahapanku ini tak lain adalah bagian dari hatiku. Hanya saja selama ini aku terlalu capek dibuatnya saat berusaha untuk menemukannya. Ku lihat Hati ini naik turun di dadaku, seolah-olah mencari sebuah jalan yang telah memutusnya untuk kembali mendekap bagiannya yang telah lama hilang yang kini telah kembali, di mana selama ini bagian tersebut selalu merindukannya.

Adapun Dia, aku telah melihat tatapannya yang lepas di mataku seolah-olah berkata:

Tidakkah engkau ingat? Tidakkah engkau ingat bahwasannya engkau mengenalku? Tidak kah kau ingat saat kita menjadi satu hati dan satu jiwa, kemudian jiwa tersebut terbelah sedangkan hati tersebut terpisah, dan sekarang tidakkah kau ingin agar dua jiwa dan dua hati tersebut kembali berpadu?

Kemudian Dia berlalu –duhai sobatku- begitu juga aku, tanpa ku ucapkan sepatah katapun padanya tak pula dia memberikan sepatah kata padaku. Aku berlalu dengan membawa beban dalam diriku, aku masuk dalam bencana yang aku tak tau entah seperti apa nanti akhir ceritanya. Aku beralalu dan ku harap ini adalah pertemuan yang pertama dan terakhir, hanya saja Cinta telah memperingatkan setiap orang di antara kami.

Kemudian tangga Apartemen tersebut yang sama-sama kami tempati seolah-olah menjadi tempat perjanjian untuk kami bertemu. Sebuah pertemuan tanpa ucapan selain Hati dan Tatapan Mata”.

Aku berkata padanya: “Bukankah engkau adalah lelaki yang sudah beristri, bagaimana bisa wanita tersebut melihat celah di hatimu kemudian menempatinya?”

Ia hanya tersenyum sesaat kemudian berkata : “Apakah api ini ditiupkan ke dalam rusukku sedangkan aku adalah seorang yang berisitri. Di pandangan orang-orang, aku adalah lelaki yang beristri, akan tetapi pada kenyataannya aku masih menjomblo. Seorang jomblowan yang menjadikan pernikahan sebagai ikatan yang telah memenjarakannya dalam kejombloan seumur hidupnya”.

Aku berkata: “Bagaimana hal ini bisa terjadi?”

Dia menjawab: “Keluargaku telah meminang seorang gadis untukku, di mana aku belum pernah melihatnya tak pula mengenalnya. Mereka menyodorkan harapan mereka tanpa keraguan agar aku mau menerima ini semua dalam bayangan semu di mana aku tak mengenalnya tak pula tahu rupanya.

Hal ini tak lain karena mereka telah mengenal gadis tersebut, mencintainya dan merasa cukup dengannya. Ketika hati ayah dan ibu telah telah mencintai gadis tersebut maka bagi seseorang yang hendak ditunangkannya tak perlu lagi untuk diperhatikan hatinya.

Pada akhirnya keadaan gadis dan suaminya tersebut terserah mau mereka bawa kemana hidup mereka, entah bahagia ataupun tidak. Ini semua semata-mata karena harapan keluarga yang harus tercapai. Maka dari itu tak ada jalan bagi mereka selain mereka yang menentukan pilihan dan memberikan perintah. Sedangkan aku tak bisa melakukan apa-apa selain mendengar dan menaatinya.

Aku patuhi harapan mereka, namun pada kenyataannya ku temukan jiwaku di dahapan seorang gadis di mana hatiku dan hatinya tak pernah terhubungkan, tak pula aku temukan kecocokan dari parasnya, wataknya tak pula usianya. Ku lihat diriku dan dirinya telah menjadi sembelihan Kurban dalam keluarga yang otoriter.

Adapun diriku, alangkah jauh sekali untuk menemukan jalan keluar, sedangkan hal ini telah terjadi. Sedangkan dirinya… Sungguh aku telah melihat bahwa semua kebahagiannya ada dalam genggamanmu. Kemudian aku berkata pada diriku sendiri: “Jika aku tak bisa memperoleh kebahagiaan, maka jangan sampai orang lain tak bisa merasakannya. Dan merupakan kasih sayang Allah kepada hambanya yang tertimpa bencana, Dia selalu memberikan kebahagiaan yang terlewatkan dari hambanya tersebut dengan menjadikannya berbuat baik kepada orang yang hidup bersamanya dalam Bencana”.

Dan sejak saat itu aku hanya sekedar acting di hadapannya dengan sebuah hati yang tergadaikan dan perasaan yang tak sebenarnya.

Sedangkan hari ini telah telah terjadi apa yang aku takutkan selama ini, lantas apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku harus menempuh kehidupan? Bagaimana aku harus membahagiakan jiwaku dan terus kekal dalam kebahagiaan tersebut?

Demi Allah wahai sobatku, aku telah terjerumus dalam sebuah Bencana yang mempunyai tiga mata rantai:
1. Cinta yang membakar hati,
2. Keputusasaan yang membunuh jiwa, dan
3. Kasih sayang yang mengoyak hati”.

Kemudian aku berkata kepadanya: “Akan tetapi, apa yang mencegah mereka untuk memperkenankanmu melihat seorang gadis sebelum kau menikah dengannya?”

Dia menjawab: “Tradisi, tuanku… Otoritas orang tua, itulah yang mencegah mereka dari hal itu. Sedangkan mereka kira dengan itu semua mereka telah menjaga Tradisi. Kemudian, coba kau bayangkan aku telah melihat gadis tersebut, akan tetapi tetap saja aku tidak bisa keluar dari keputusan keluarga yang menentukan segalanya”.

Kemudian dia berdiri meninggalkan secangkir teh di tempatnya, kemudian berpaling tanpa sedikit aku meneguhkan hatinya walau dengan sepatah kata.

Aku berkata pada diriku sendiri setelah dia menuturkan ucapannya dan berlalu dari hadapanku: “Inna Lillah, sesungguhnya orang seperti dia dan semisalnya telah menjadi Sembelihan Kurban dalam masyarakat dengan dua alasan, yaitu:

1. Ketidaktahuan akan hakikat Islam serta keterjauhan dari hukum-hukumnya,
2. Kegandrungan dengan segala sesuatu yang ditanamkan oleh Dunia Barat dari kerusakan.

Andaikan kita memahami bahwa Islam itu mementingkan kerelaan dari setiap orang dari sepasang suami-istri dan memerintahkan agar melihat seorang gadis kala melamarnya dengan pandangan yang mencukupi, kemudian kita mematuhinya.

Andaikan kita bersihkan masyarakat kita dari bencana yang dipancarkan Dunia Barat kepada kita dari dandanan yang berlebihan pada seorang wanita serta campurnya laki-laki dan perempuan, sungguh pemuda tersebut tak akan menelan kesengsaraan dalam biduk rumah tangganya. Dan ketika hati pemuda tersebut telah hilang dalam beberapa saat, tentunya dia orang yang paling membutuhkan nasehat ini”. (*)

  • Artikel ini ditulis oleh Dr Buthi pada usia 26 tahun saat beliau menempuh jenjang perkuliahan di Kairo pada bulan Desember 1955.
  • Disadur dari Kitab “Al-Bidayatu Bakuratu A’mali Al-Fikriyah” hal. 92-96, cet. Dar El-Fikr Damaskus, th. 2010.
  • Alih Bahasa: Imam Abdullah El-Rashied, Mahasiswa Fakultas Syariah – Imam Shafie College, Hadramaut, Yaman.

Tadzkirah

Kenaikan Beragama Seseorang Ditandai oleh Akhlaknya yang Baik – KH A Musthofa Bisri

-- Akhlak

Buku

Islam ala Amerika
Judul: Islam Amerika Penulis: Imam Feisal Abdul Rauf Penerbit: Bandung, Mizan Terbitan: Pertama, Desember 2013 Tebal: 351 halaman ISBN: 978-602-1210-01-7 Peresensi: M Kamil Akhyari ...